Kamis, 03 Maret 2016

12. MINTALAH PENGAMPUNAN DOSA HARI INI !!! PINTU KERAHIMAN ALLAH DIBUKA !!

 Hari, selama 24 jam penuh semua Gereja Katolik membuka lebar-lebar pintu pertobatan. Kerahiman Ilahi dicurahkan bagi kita semua pendosa yang ingin mengakuinya. Gunakan kesempatan ini. Atau paling tidak datangi Gereja, berdoalah di depan tabernakel. Mohon, berdoa untuk segala keperluan dan kebutuhan, material ataupun rohani.



Atau paling tidak, setidak-tidaknya luangkan waktu pada jam 15.00 atau jam 3 sore untuk melakukan doa kerahiman ilahi sbb di depan tabernakel sbb :

Doa Kerahiman Jam 3 Sore
Ya Yesus,

Engkau wafat, namun sumber kehidupan tercurah bagi jiwa-jiwa,Dan lautan belas kasih Allah, terbuka luas bagi seluruh dunia, O mata air kehidupan, belas kasih Allah yang tak terpahami,lingkupilah seluruh dunia, dan curahkanlah diri-Mu atas kami.O, Darah dan Air, yang tertumpah dari Hati-Mu ya Yesus,sebagai mata air belas kasih-Mu bagi kami,aku mengandalkan Engkau, Yesus.


Allah yang Kudus, Kudus dan berkuasa,
Kudus dan kekal, kasihanilah kami,
dan seluruh dunia ….. 3x
Yesus, Raja Kerahiman Ilahi,
aku mengandalkan Engkau.
Amin

Sabtu, 27 Februari 2016

11. DOA PAUS FRANSISKUS UNTUK TAHUN YUBILIUM LUARBIASA, KERAHIMAN ILAHI

Doa ini saya dapatkan dari APIK oleh Rm. Samiran SCJ, semoga berguna dan bisa kita doakan dengan setia selama tahun Kerahiman Ilahi 2016 :


DOA PAUS FRANSISKUS UNTUK TAHUN YUBILEUM LUAR BIASA KERAHIMAN ALLAH

Tuhan Yesus Kristus,
Engkau telah mengajarkan kami bermurah hati seperti Bapa surgawi,
dan telah mengatakan kepada kami bahwa barangsiapa melihat Engkau melihat Bapa.
Tunjukkanlah kepada kami wajah-Mu dan kami akan selamat.
Tatapan-Mu yang penuh kasih
telah membebaskan Zakeus dan Matius dari perbudakan oleh uang; 
para pezinah dan Maria Magdalena dari pencarian kebahagiaan hanya dalam benda-benda ciptaan;
membuat Petrus amat menyesal setelah pengkhianatannya;
dan menjanjikan Firdaus kepada penjahat yang bertobat.
Sabda-Mu mengundang kami, seolah-olah kata-kata yang Engkau katakan kepada perempuan Samaria itu ditujukan juga kepada kami :
“Jika engkau tahu tentang karunia Allah!”
Engkau adalah wajah yang kelihatan dari Bapa yang tidak kelihatan,
wajah Allah yang mewujudkan kuasa-Nya terutama dengan pengampunan dan kerahiman :
Buatlah Gereja menjadi wajah-Mu yang kelihatan di dunia,
wajah Tuhannya yang bangkit dan dimuliakan.
Engkau menghendaki agar para pelayan-Mu juga akan mengenakan kelemahan
agar mereka dapat tergerak oleh belas kasihan kepada mereka yang berada dalam ketidaktahuan dan kekeliruan:
biarkan setiap orang yang berada di dekatnya senantiasa merasa dicari, dikasihi, dan diampuni oleh Allah.

Utuslah Roh Kudus-Mu dan kuduskanlah setiap orang dari antara kami dengan urapan-Nya,
sehingga Yubileum Kerahiman ini dapat menjadi sebuah tahun rahmat dari-Mu Tuhan,
dan buatlah Gereja-Mu, dengan semangat yang diperbarui,
dapat membawa kabar baik kepada orang miskin,
memberitakan kebebasan untuk para tawanan dan orang tertindas,
dan memulihkan penglihatan bagi orang buta.

Kami mohon ini kepada-Mu Tuhan, melalui perantaraan Maria, Bunda Kerahiman,
sebab Engkaulah yang hidup dan memerintah bersama Bapa dan Roh Kudus untuk selama-lamanya.
Amin


Teks bahasa Inggris-nya:

PRAYER OF HIS HOLINESS POPE FRANCIS
FOR THE EXTRAORDINARY JUBILEE OF MERCY*
 Lord Jesus Christ, 
you have taught us to be merciful like the heavenly Father, 
and have told us that whoever sees you sees Him. 
Show us your face and we will be saved. 
Your loving gaze freed Zacchaeus and Matthew from being enslaved by money; 
the adulteress and Magdalene from seeking happiness only in created things; 
made Peter weep after his betrayal, 
and assured Paradise to the repentant thief. 
Let us hear, as if addressed to each one of us, the words that you spoke to the Samaritan woman: 
“If you knew the gift of God!”
You are the visible face of the invisible Father, 
of the God who manifests his power above all by forgiveness and mercy: 
let the Church be your visible face in the world, its Lord risen and glorified. 
You willed that your ministers would also be clothed in weakness 
in order that they may feel compassion for those in ignorance and error: 
let everyone who approaches them feel sought after, loved, and forgiven by God.
Send your Spirit and consecrate every one of us with its anointing, 
so that the Jubilee of Mercy may be a year of grace from the Lord, 
and your Church, with renewed enthusiasm, may bring good news to the poor, 
proclaim liberty to captives and the oppressed, 
and restore sight to the blind.
We ask this of you, Lord Jesus, through the intercession of Mary, Mother of 
Mercy; you who live and reign with the Father and the Holy Spirit for ever and ever.
Amen.

Bahasa Italia-nya:
PREGHIERA DEL SANTO PADRE FRANCESCO 
PER IL GIUBILEO STRAORDINARIO DELLA MISERICORDIA*
 Signore Gesù Cristo, 
tu ci hai insegnato a essere misericordiosi come il Padre celeste,
e ci hai detto che chi vede te vede Lui.
Mostraci il tuo volto e saremo salvi.
Il tuo sguardo pieno di amore liberò Zaccheo e Matteo dalla schiavitù del denaro;
l’adultera e la Maddalena dal porre la felicità solo in una creatura;
fece piangere Pietro dopo il tradimento,
e assicurò il Paradiso al ladrone pentito.
Fa’ che ognuno di noi ascolti come rivolta a sé la parola che dicesti alla samaritana:
Se tu conoscessi il dono di Dio!
Tu sei il volto visibile del Padre invisibile,
del Dio che manifesta la sua onnipotenza soprattutto con il perdono e la misericordia: 
fa’ che la Chiesa sia nel mondo il volto visibile di Te, suo Signore, risorto e nella gloria.
Hai voluto che i tuoi ministri fossero anch’essi rivestiti di debolezza
per sentire giusta compassione per quelli che sono nell’ignoranza e nell’errore:
fa’ che chiunque si accosti a uno di loro si senta atteso, amato e perdonato da Dio.
Manda il tuo Spirito e consacraci tutti con la sua unzione
perché il Giubileo della Misericordia sia un anno di grazia del Signore
e la tua Chiesa con rinnovato entusiasmo possa portare ai poveri il lieto messaggio
proclamare ai prigionieri e agli oppressi la libertà
e ai ciechi restituire la vista. 
Lo chiediamo per intercessione di Maria Madre della Misericordia 
a te che vivi e regni con il Padre e lo Spirito Santo per tutti i secoli dei secoli.
Amen


Salam dan doa,

Rm. Yohanes Samiran SCJ
============================
Semoga Hati Yesus merajai hati kita

Kamis, 25 Februari 2016

10. CICAK VS KECOA

SUATU HARI DI DEKAT KANTOR SATPAM TEMPAT AKU BEKERJA, aku melihat seekor cecak  memangsa seekor kecoa, yang rupanya sedang berproses mengubah tubuhnya , karena warna kecoa ini agak unik seolah baru saja membentuk tubuh baru, lihatlah, ini foto asli dari HPku, kualitasnya tidak sebaik yang diharapkan, tapi unik mari kita lihat ya !!!!

Ini fotoku yang ke 1

foto ke 2

foto ke 3

foto ke 4

foto ke 5

foto ke 6

ke 7

ke 8
Akhirnya gigitan itu lepas, sang cicak tak dapat menikmati kecoa yang sudah tertangkap di mulutnya. Itu mungkin karena aku memotonya. Ah ... kehidupan.....

09. AKU BERMIMPI

Usiaku sudah mencapai 57. Di Usia ini masih pantaskah aku memiliki mimpi ? Masih bolehkah aku bermimpi? Dinilai dari sisi kesuksesan rasanya aku memang masih boleh bermimpi, karena aku bukan orang yang sukses. Kesuksesan masih merupakan mimpi. Cucuku, pasti mentertawakan kakeknya ini....

Dia pasti tidak memiliki kebanggaan bagi kakeknya ini, ....
Dia tidak bisa mendapatkan apa-apa dari kakeknya ini, kecuali rangkaian doa yang diam-diam ...
Putri sulungku, apalagi, .... dia sudah menjadi seseorang yang diluar jangkauanku, aku ayahnya hanya seorang lelaki yang tidak bisa dibanggakan karena tidak ada kesuksesan padanya, ... tapi diam-diam aku mendoakannya setiap hari .... untuk kebahagiaannya ....

Puteriku, yang kedua, dia jelas-jelas beberapa hari lalu mengecam aku, ayahnya, dan dia bilang, ..... tak akan pernah mau memilih seorang pria ..... seperti ayahnya, oh .... sembilu menancap telak pada jantungku ini ..... tapi aku mendoakanmu nak, sungguh carilah pria yang baik dan sukses dan mencintamu ..... yang tidak akan pernah mengecewakanmu seperti aku mengecewakan kamu dan ibumu.

Istriku, yang menjaga dan paling perduli kepadakupun, aku tahu ... dia sangat kecewa. Tapi akupun tak berdaya, karena tak ada kesuksesan padaku,.... maafkan aku istriku. Sesungguhnya dilubuk hatiku yang terdalam.... aku bermimpi, ingin membuatmu bahagia .... tapi aku sampai saat ini hanya membuatmu menderita.

Bolehkah aku tetap memimpikan kebahagiaanmu?

Selasa, 09 Februari 2016

08. RENUNGAN HARI PERTAMA MASA PUASA, PRA-PASKAH 2016

SALAM dalam Damai Kristus,

Hari ini bacaan pertama di mulai dengan ayat : Yl. 2:12-18

"Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh."

Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hati-MU ..... Tuhan meminta kita mengarahkan seluruh keberadaan kita, umat-Nya, untuk mengarahkan diri , menghadap, berharap , meminta pengampunan, meminta berkat, dan ..... mendengarkan Dia..... JANGAN LUPA ......

                                    DENGAN SEGENAP HATIMU

Seruan dengan segenap hatimu, ini, meminta usaha kita yang total !!! Karena mengarahkan hati, dengan berbalik, artinya meminta kita untuk memutar perhatian kita dari gaya hidup sehari-hari untuk diri sendiri, menjadi .... gaya yang menanggapi panggilan Allah Bapa Tuhan kita... melalui Putra-Nya Yesus Kristus dan dijiwai oleh Roh Kudus !!!

Mari kita hari ini, pada hari Rabu Abu ini, memulainya dengan BERPUASA dan Pantang, dengan berpuasa maksudnya, hari ini kita hanya akan makan kenyang, satu kali, apa yang biasanya kita makan dan kita tidak makan, kita bagikan, sedekahkan untuk orang yang membutuhkan, jika uang atau makanan yang kita punya , jumlahnya sedikit, mari mulai kita kumpulkan, hingga sampai di hari kita bisa menyampaikannya pada orang yang membutuhkan atau dipersembahkan pada Gereja Kudus. Berpantanglah, tentukan apa yang menjadi fokus kita pada hari-hari biasa !!! Apakah kita selalu ingin menggunakan HP sepanjang hari, oke, lakukan tetap kegiatanmu, tapi kurangilah waktu penggunaan-nya .... kurangilah !!! untuk sebuah persembahan pada Yesus, gunakan waktu-mu untuk berdoa, dan menyadari keegoisan kita, ... dan menagislah dihadapan-Nya !!!

Mengaduhlah, jika amat sedih dan menderita hati kita, karena .... suami.... karena istri .... karena anak ....karena orangtua ... karena kekasih .... karena teman .... karena tetangga ..... karena desa ... karena kabupaten... karena kota .... dan karena NEGARA.

Dalam bacaan Injil Suci, juga bacaan di buka oleh Matius 6 : 1 - 6, ayat pertamanya mengatakan ....


Mat 6:1"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
Hal-hal atau perhatian kita hari ini, adalah ajakan Tuhan, jadi semuanya akan kita lakukan dalam kegiatan yang menuju dan mengarah kepada-Nya, ... HANYA PERLU untuk fokus kepada-Nya ... hentikan keinginan pamer dan keinginan untuk mendapa pujian, karena IBADAHMU,   .... karena DIA telah memperingatkan kita.

       JANGAN MELAKUKAN KEWAJIBAN AGAMAMU ... UNTUK ... DILIHAT MEREKA

Marilah kita memohon kekuatan kepada-Nya, berdasarkan kerahiman-Nya, untuk mohon kekuatan agar kita semua berada pada jalan .... YANG ... di MAU-I -NYA.   Amin

Salam

Selamat berpantang dan berpuasa !

Senin, 29 Oktober 2012

07. Kelahiran Maria

Nah, ini sebuah kisah lagi yang juga saya copas dari APIK dan dimuat oleh Bu Vero yang rajin yang sumbernya dari Yesaya. Moga-moga bisa menambah pemahaman tentang Maria, ... walau belum diselidiki apakah ini ... benar-benar terjadi, namun minimal sebuah gambaran menyentuh yang bisa kita petik hikmahnya.

The visions of Blessed Anne Catherine Emmerich wrote:

KELAHIRAN MARIA 

Beberapa hari sebelumnya, Anna memberitahukan kepada Yoakim bahwa saat kelahiran sudah menjelang. 
Anna mengirimkan utusan-utusan membawa kabar kepada saudarinya Maraha di Sephoris, juga kepada janda Enue - saudari Elisabet - di Lembah Zebulon, dan kepada Salome - puteri Sobe saudari sulung Anna, isteri Zebedeus dari Betsaida. Putera-putera Salome dan Zebedeus, yakni Yakobus Tua dan Yohanes, belum lahir waktu itu. Anna meminta ketiga perempuan ini datang kepadanya. 

Aku melihat ketiganya dalam perjalanan. Dua dari mereka ditemani oleh suami mereka yang balik pulang setelah mereka tiba dekat Nazaret. 
Yoakim telah mengutus para pelayan laki-laki untuk menjaga kawanan ternak, dan menahan hanya beberapa pelayan perempuan yang sungguh dibutuhkan di rumah. 

Maria Heli, puteri sulung Anna, memegang kendali rumah tangga. 

Saat itu Maria Heli berusia sekitar Sembilan belas tahun dan telah menikah dengan Kleopas, salah seorang kepala gembala Yoakim. 

Sore hari menjelang kelahiran sang bayi, Yoakim sendiri pergi kepada kawanan ternaknya di padang yang paling dekat dari rumah. Aku melihatnya bersama beberapa pelayan laki-laki yang masih sanaknya. 
Ia menyebut mereka saudara, tetapi mereka adalah anak-anak dari saudaranya laki-laki. 
Padang rumput disekat dengan indah dan dipagari dengan tanam-tanaman. 
Di pojok-pojoknya terdapat gubuk-gubuk di mana para pelayan biasa menyantap makanan yang disediakan dari rumah Anna. 
Di sana juga ada sebuah altar batu di mana mereka berdoa. 
Anak-anak tangga menurun menuju altar dan sekelilingnya dipaving rapi dengan batu-batu segitiga. 
Dibelakang altar terdapat sebuah tembok dengan anak-anak tangga di sisi-sisinya. Keseluruhan tempat itu dikelilingi pepohonan. 

Yoakim, setelah berdoa sejenak di sana, memilih anak-anak domba, anak-anak kambing dan sapi jantan, semua yang terbaik dari kawanan ternaknya, dan mengirimkan bersama para pelayan ke Bait Allah sebagai persembahan. Ia tidak kembali ke rumah sebelum malam tiba. 

Aku melihat, menjelang sore ketiga perempuan datang ke kediaman Anna. Begitu tiba, mereka langsung pergi kekamarnya di belakang perapian. Anna memeluk mereka, mengatakan bahwa saatnya sudah dekat. Ia berdiri bersama mereka memadahkan sebuah Mazmur, 
"Terpujilah Tuhan Allah. Ia telah menaruh belas kasihan kepada umat-Nya dan telah membebaskan Israel. Sungguh, Ia telah menggenapi janji yang dibuat-Nya kepada Adam di Firdaus: keturunan si perempuan akan meremukkan kepala ular." 

Aku tidak ingat semuanya, ayat demi ayat. 
Anna berdoa seakan dalam ekstasi. 

Ia memasukkan dalam madahnya segala nubuat para nabi mengenai Maria. Katanya, "Benih yang diberikan Tuhan kepada Abraham telah masak dalam diriku. Janji yang diucapkan kepada Sara dan bunga dari tongkat Harun digenapi dalam diriku." 
Sepanjang waktu ini, Anna bersinar dalam cahaya. Ruangan dipenuhi kemuliaan dan diatas Anna melayang-layang tangga Yakub.Para perempuan sekelilingnya amat takjub dan terpana. Aku pikir mereka juga melihat tangga itu. 

Dan sekarang makanan minuman ringan dihidangkan di depan para tamu. 

Mereka makan dan minum sambil berdiri dan menjelang tengah malam berbaring istirahat. Tetapi Anna tetap terjaga dalam doa. 
Setelah sejenak, ia pergi membangunkan para perempuan. Ia merasa waktunya telah tiba, dan ia menghendaki mereka berdoa bersamanya. 
Mereka semua masuk ke belakang sebuah tirai yang menutupi sebuah oratorium. Anna membuka pintu-pintu sebuah lemari kecil yang dibangun dalam dinding. Di dalam lemari terdapat sebuah kotak berisi harta pusaka yang sakral, di sisi-sisinya terdapat lampu-lampu dian yang disusun begitu rupa sehingga dapat dipasangkan pada kakinya apabila diperlukan. Lampu-lampu ini sekarang dinyalakan. 
Di kaki altar kecil terdapat sebuah bangku berbantal. 
Kotak berisi beberapa helai rambut Sara yang disimpan Anna dengan penuh hormat; beberapa tulang-belulang Yusuf yang dibawa Musa bersamanya keluar dari Mesir; sesuatu milik Tobit, relikui pakaian, aku pikir; dan piala kecil putih berkilau berbentuk buah pear dari mana Abraham minum ketika ia menerima Berkat dari malaikat, dan yang kemudian hari diambil dari Tabut Perjanjian dan diberikan kepada Yoakim bersama Berkat. 

Aku tahu sekarang bahwa Berkat ini mengambil rupa anggur dan roti dan merupakan makanan sakramental yang menguatkan. 
Anna berlutut di depan altar, seorang perempuan di masing-masing sisinya, dan perempuan ketiga di belakangnya. Lagi aku mendengar mereka mendaraskan sebuah Mazmur. 
Aku pikir semak duri yang menyala di Horeb disebutkan di sana. 
Dan sekarang suatu cahaya adikodrati mulai mengisi kamar dan melayang-layang sekeliling Anna. Ketiga perempuan jatuh prostatio seolah pingsan. 
Sekeliling Anna sinar mengambil bentuk tepat seperti semak duri di Horeb, hingga aku tak lagi dapat melihat Anna. 
Api memancar ke dalam, dan sekonyong-konyong, aku melihat Anna menerima kanak-kanak Maria yang bercahaya dalam kedua tangannya. 
Anna membungkus bayi dalam mantolnya, mendekapkannya ke dada, membaringkannya diatas bangku berbantal didepan relikui, dan melanjutkan doanya. 

Kemudian aku mendengar bayi menangis dan aku melihat Anna menarik kain lenan dari bawah kerudung besar yang membungkusnya. 
Ia membedung bayi, pertama-tama dengan kain abu-abu dan lalu merah, membiarkan dada, kedua tangan, dan kepalanya telanjang; kemudian semak duri yang bernyala pun lenyap. 
Para perempuan kudus bangkit dan dalam ketakjuban penuh sukacita menyambut bayi yang baru dilahirkan itu dalam buaian mereka. 
Mereka menangis haru penuh bahagia. 
Semua melantunkan madah pujian sementara Anna menatang bayi tinggi-tinggi. 
Lagi, aku melihat kamar dipenuhi cahaya dan beribu-ribu malaikat. 
Mereka memaklumkan nama si bayi dengan bernyanyi, 
"Pada hari yang keduapuluh, anak ini hendaknya dinamai Maria." 
Kemudian para malaikat memadahkan Gloria dan Alleluia. 
Aku mendengar semua perkataan ini. 

Anna masuk ke dalam kamarnya dan berbaring di atas pembaringan. 
Para perempuan memandikan dan membedung bayi dan menempatkannya dekat bundanya. 
Di samping pembaringan terdapat sebuah keranjang buaian kecil yang dilengkapi dengan pasak-pasak kayu, dengan mana buaian dapat dipasangkan di kiri atau kanan, atau di kaki tempat tidur sebagaimana dikehendaki. Salah seorang dari para perempuan itu pergi memanggil Yoakim. 
Ia masuk, berlutut di sisi pembaringan Anna, airmatanya mengalir deras atas si bayi. Lalu ia menggendongnya, menatangnya tinggi-tinggi, dan memadahkan sebuah kidung pujian serupa kidung Zakharia. 
Ia berbicara penuh haru mengenai kesediaannya sekarang untuk mati, dan ia menyinggung benih yang diberikan Allah kepada Abraham dan digenapi dalam dirinya, juga mengenai pangkal Isai. 
Aku perhatikan bahwa Maria Heli tidak termasuk di antara mereka yang pertama-tama melihat si bayi, sebab adat Yahudi tidak memperkenankan puteri bersama dengan ibunya pada saat yang demikian. 

Pada saat yang bersamaan kanak-kanak yang baru dilahirkan itu terbaring dalam buaian Anna, aku melihat kanak-kanak dipersembahkan di surga di hadapan Tritunggal Mahakudus dan disambut dengan sukacita tak terkira oleh segenap penghuni surga. 
Kemudian aku mengerti bahwa dengan suatu cara yang adikodrati dinyatakan kepadanya seluruh masa depannya dengan segala sukacita dan dukacitanya. 
Melalui rahmat, kepada Maria diajarkan misteri-misteri yang tak terbatas, namun demikian ia tetap seorang kanak-kanak. 
Pengetahuan yang diberikan kepadanya ini tak akan mampu kita pahami, sebab pengetahuan kita tumbuh pada pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. 
Tetapi, Maria memahami semuanya bagai seorang bayi mengenali buah dada ibunya dan bahwa ia harus minum darinya. 
Sementara penglihatan memudar, aku mendengarnya menangis untuk pertama kalinya. 

Aku melihat kabar kelahiran Maria dimaklumkan juga di limbo dan aku melihat gejolak sukacita dengan mana kabar disambut oleh para patriark, teristimewa oleh Adam dan Hawa yang bersukacita sebab Janji yang dinyatakan kepada mereka di Firdaus sekarang telah digenapi. 
Aku juga melihat bahwa para patriark meningkat dalam status rahmat, bahwa tempat tinggal sementara mereka bertambah terang dan bertambah luas, dan bahwa kepada mereka diberikan pengaruh yang terlebih besar di bumi. 
Seolah segala perbuatan baik mereka, segala penitensi mereka, segala daya upaya hidup mereka, segala kerinduan dan hasrat mereka pada akhirnya membuahkan hasil. 

Segenap alam, yang bergerak maupun yang tak bergerak, manusia maupun binatang digerakkan sukacita, dan aku mendengar madah nyanyian yang merdu. Para pendosa dipenuhi sesal dan tobat. 
Aku melihat, teristimewa sekitar Nazaret dan di bagian-bagian lain Palestina, banyak jiwa-jiwa kerasukan yang pada saat kelahiran Maria menjadi sama sekali murka. 
Mereka melontarkan pekikan-pekikan ngeri, dan mereka dilempar dan dibanting kesana sini. 
Roh-roh jahat berseru dari mereka, "Kita harus mundur! Kita harus keluar!" 

Sukacita terbesarku adalah melihat imam tua Simeon di Bait Allah pada malam kelahiran Maria ini. 
Ia terbangun oleh pekikan ngeri dari mereka yang kerasukan, yang dikurung di sebuah bangunan di salah satu jalanan di Gunung Bait Allah. Simeon bersama yang lainnya bertanggung jawab atas orang-orang kerasukan ini. Pada malam itu ia pergi ke rumah di mana mereka dikurung dan menanyakan penyebab jerit pekik yang membangunkan semua orang dari tidur lelap. Orang kerasukan yang paling dekat pintu masuk berseru dengan ganas bahwa ia harus keluar. Simeon membuka pintu; orang yang kerasukan itu keluar dan darinya roh jahat berseru, "Aku harus pergi! Kami harus pergi! 
Seorang perawan telah dilahirkan, dan di atas bumi ada begitu banyak malaikat yang menyiksa kami. 
Kami harus pergi, dan tidak akan pernah lagi kami berani merasuki manusia!" 
Kemudian aku melihat makhluk malang itu dilempar-lemparkan dengan hebat kian kemari oleh roh jahat yang akhirnya pergi darinya. 
Simeon berdoa dengan khusuk. Aku sungguh bersukacita melihat Simeon tua pada waktu itu. 

Aku juga melihat nabi perempuan Hana dan Noemi terbangun dan diberitahukan kepada mereka dalam penglihatan mengenai kelahiran seorang anak terpilih. 
Noemi adalah saudari ibunda Lazarus; ia tinggal di Bait Allah dan kelak menjadi guru Maria. 
Hana dan Noemi bertemu dan saling menceritakan satu sama lain apa yang telah mereka lihat. Aku pikir mereka mengenal Anna. 

Di negeri Tiga Raja,nabi-nabi perempuan tertentu mendapat penglihatan mengenai kelahiran Santa Perawan. 
Para nabi perempuan ini memberitahukan kepada para imam mereka bahwa seorang Perawan telah dilahirkan dan bahwa demi menyambut sang Perawan banyak roh-roh telah turun ke bumi, namun sebagian roh-roh lainnya berada dalam ketakutan. 
Raja-raja yang mengamati bintang-bintang juga melihat gambar-gambar mengenainya dalam bintang-bintang mereka. 

Di Mesir, pada malam kelahiran, sebuah berhala terlempar dari kuilnya ke dalam laut, dan sebuah berhala lain tumbang dari tempatnya dan hancur berkeping-keping. 

Keesokan paginya, 9 September, aku melihat datang himpunan besar tetangga dari sekitar rumah bersama para pelayan Anna, laki-laki dan perempuan. 
Para perempuan yang berwenang memperlihatkan bayi kepada mereka. 
Banyak dari antara mereka yang sungguh tergerak hatinya dan banyak hati yang jahat diubah. 
Mereka berduyun-duyun datang sebab mereka melihat seberkas sinar di atas rumah Anna pada waktu malam dan juga karena kelahiran anak Anna dipandang sebagai suatu berkat besar. 

Pada tanggal 10 dan 11 September, sanak-saudara lainnya dari pihak Yoakim datang dari Lembah Zebulon, juga para pelayan yang dari jauh. 
Bayi diperlihatkan kepada semua orang dan suatu jamuan diadakan di rumah. 

Pada hari-hari selanjutnya orang datang berkelompok untuk melihat bayi Maria. Buaiannya yang kecil, berbentuk sebuah perahu, ditempatkan di atas sebuah tumpuan yang tinggi, di depan rumah. 
Selimutnya yang bawah berwarna merah, yang atas berwarna putih, dan di atas hamparan selimut-selimut itu terbaring sang bayi yang dibedung hingga sebatas ketiak dalam balutan kain merah dan kain transparan putih. 

Aku juga melihat Maria Kleopas, puteri Maria Heli dan Kleopas, cucu Anna. Pada saat itu Maria Kleopas baru beberapa tahun umurnya. 
Ia bermain dengan bayi Maria dan memeluk serta membelainya. 
Maria Kleopas seorang anak yang kuat dan sehat. 
Ia mengenakan gaun putih tanpa lengan dengan sulaman merah di mana digantungkan bola-bola kecil merah serupa apel. 
Sekeliling lengannya yang telanjang ia mengenakan lingkaran-lingkaran putih yang tampaknya terbuat dari bulu-bulu, sutera atau wool. 
Kanak-kanak Maria juga mengenakan sehelai syal kecil transparan sekeliling lehernya. 



The Visions of Blessed Anne Catherine Emmerich wrote:

MALAM KELAHIRAN MARIA 

Betapa sukacita disegenap penjuru alam raya! Burung-burung berkicau, anak-anak domba dan anak-anak kambing bermain-main dan melompat-lompat gembira, kawanan merpati mengepak-ngepakkan sayap penuh sukacita sekeliling tempat di mana tadinya rumah Anna berdiri. 
Sekarang aku melihat hanya padang liar saja di sana. 
Tetapi aku mendapat penglihatan mengenai para peziarah pada masa-masa yang jauh silam yang, dengan berikat pinggang dan dengan tongkat panjang di tangan, pergi menyusuri negeri menuju Gunung Karmel. 
Di kepalanya mereka mengenakan sehelai kain yang dililitkan di kepala seperti serban. 
Mereka juga ikut ambil bagian dalam kegembiraan alam raya. 
Dan ketika dengan keheranan mereka bertanya kepada para pertapa yang tinggal dekat sana penyebab dari kegembiraan yang meluap-luap ini, mereka mendapatkan jawaban bahwa kegembiraan yang demikian biasa terjadi. 
Mereka senantiasa mengamati malam peringatan kelahiran Maria di sekitar tempat itu di mana tadinya berdiri rumah Anna. 
Para pertapa menceritakan kepada mereka tentang seorang kudus di masa silam yang pertama kali memperhatikan keajaiban alam ini. 
Kisahnya memunculkan perayaan pesta Kelahiran Santa Perawan Maria yang segera saja menjadi umum di segenap penjuru Gereja. 
Dan sekarang aku juga melihat bagaimana ini diwariskan. 

Aku melihat seorang peziarah saleh, dua ratus lima puluh tahun setelah wafat Maria, menyusuri Tanah Suci, mengunjungi dan menghormati segala tempat-tempat yang berhubungan dengan Yesus semasa Ia di dunia. Peziarah ini dibimbing kuasa adikodrati. 
Terkadang ia tinggal selama beberapa hari di tempat-tempat tertentu di mana ia merasakan penghiburan yang luar biasa. 
Di sana ia berdoa dan bermeditasi, dan di sana juga ia menerima wahyu-wahyu dari Yang Mahatinggi. 
Selama beberapa tahun, dari tanggal 7 hingga 8 September, ia mengamati suatu sukacita semarak di alam raya dan mendengar suara-suara malaikat bernyanyi di udara. 
Ia berdoa dengan khusuk guna mengetahui arti semua ini, dan dinyatakan kepadanya dalam suatu penglihatan bahwa itu adalah malam kelahiran Santa Perawan Maria. 
Sang peziarah sedang dalam perjalanan ke Gunung Sinai ketika ia mendapatkan penglihatan ini. 
Dalam penglihatan diberitahukan juga kepadanya mengenai keberadaan sebuah kapel yang dibangun demi menghormati Maria dalam sebuah gua 
Nabi Elia. 
Dan ia diperintahkan untuk mengungkapkan hal ini, pula suasana malam kelahiran Santa Perawan Maria, kepada para pertapa di Gunung Sinai. 

Aku melihatnya lagi ketika ia tiba di gunung. 
Di mana sekarang berdiri biara, di sana bahkan pada masa awali, tinggallah para pertapa yang terserak di sana sini. 
Pada masa itu, seperti juga pada masa sekarang, tempat itu tidak dapat dimasuki dari lembah. 
Untuk mencapai puncak gunung dari sisi tersebut dipergunakan mesin-mesin pengerek. 
Aku melihat, sebagai hasil dari pewartaan sang peziarah, di sini untuk pertama kalinya dirayakan pesta peringatan Kelahiran Santa Perawan Maria pada tanggal 8 September tahun 250, dan kemudian perayaan ini diperkenalkan ke wilayah-wilayah lain Gereja. 

Aku melihat para pertapa menemani sang peziarah ke gua Elia untuk mengunjungi kapel yang dibangun dalam sana demi menghormati Maria. 

Tetapi tidaklah mudah menemukan gua, sebab gunung diselimuti kebun-kebun yang masih menghasilkan buah-buah berlimpah meski telah lama dibiarkan liar, ada banyak gua-gua para pertapa dan kaum Esseni di sana. 
Peziarah yang mendapat penglihatan meminta mereka untuk mengutus seorang Yahudi ke berbagai gua itu, dan gua yang dapat dimasukinya itulah gua Elia. 
Demikianlah diperintahkan kepadanya dalam penglihatan. 
Aku kemudian melihat mereka mengutus seorang Yahudi tua untuk masuk ke dalam gua-gua, tetapi, setiap kali ia mencoba masuk ke suatu gua yang memiliki jalan masuk sempit yang dibangun di depannya, ia terpental. 
Dengan mukjizat inilah akhirnya ditemukan gua Elia. 
Setelah masuk, mereka menemukan sebuah gua lain yang jalan masuknya telah ditutup oleh batu-batu; inilah kapel di mana Nabi Elia berdoa menghormati Bunda Juruselamat yang akan datang. 
Banyak relikwi-relikwi suci yang masih disimpan di sana, tulang-belulang para nabi dan patriark, tirai-tirai dan bejana-bejana yang dulu dipergunakan dalam upacara-upacara Hukum Lama. 

Tempat di mana semak duri tadinya berdiri disebut dalam bahasa negeri itu: Bayangan Tuhan. 
Orang masuk ke dalamnya dengan bertelanjang kaki. 
Kapel Elia memiliki dinding dari batu-batu besar yang indah di mana terdapat galur-galur serupa bunga-bunga. 
Sesudahnya, batu-batu ini dipergunakan untuk pendirian gereja. 
Di sekitar sana terdapat sebuah gunung yang seluruhnya berpasir merah, dan meski demikian menghasilkan buah-buah yang menarik hati. 

Aku tahu dari St Brigitta bahwa jika seorang perempuan hamil berpuasa pada malam kelahiran Maria dan dengan khusuk mendaraskan sembilan Salam Maria demi menghormati sembilan bulan yang dilewatkan Santa Perawan dalam rahim St Anna; jika ia kerap mengulang doa-doa ini sepanjang kehamilannya, dan teristimewa pada malam kelahiran, menyambut Sakramen-sakramen kudus dengan khidmad, maka Santa Perawan sendiri yang akan mempersembahkan doa-doa perempuan ini kepada Tuhan dan mendatangkan atasnya, bahkan meski dalam situasi-situasi yang amat kritis, kelahiran yang bahagia. 

Aku melihat Santa Perawan pada malam kelahirannya. 
Ia mengatakan kepadaku, "Barangsiapa pada malam ini (7 September) mendaraskan sembilan kali Salam Maria dengan penuh cinta dan khusuk demi menghormati sembilan bulan yang aku lewatkan dalam rahim bundaku, dan juga demi menghormati kelahiranku, dan meneruskan devosi yang sama selama sembilan hari berturut-turut, maka setiap hari ia memberikan kepada para malaikat sembilan kuntum bunga untuk suatu karangan bunga. 
Karangan bunga ini dibawa para malaikat ke surga dan dipersembahkan kepada Tritunggal Mahakudus guna mendapatkan perkenan Allah bagi dia yang berdoa." 

Aku dibawa ke suatu tempat tinggi antara surga dan bumi. 
Aku melihat bumi di bawahku redup dan suram; 
di atasku surga di mana, di antara paduan-paduan suara para malaikat dan susunan para terberkati, adalah Santa Perawan di hadapan tahta Allah. 
Aku melihat dipersiapkan bagi Santa Perawan dua tahta kehormatan, dua bangunan kehormatan, yang akhirnya menjadi gereja-gereja, ya, 
seluruh kota-kota, dan gereja-gereja dibentuk dari doa-doa di bumi. 
Gereja-gereja dibangun sepenuhnya dari bunga-bungaan, dedaunan, karangan-karangan bunga, berbagai macam ragam nilai dan karakteristik doa pribadi dan doa seluruh jemaat. 
Para malaikat dan para kudus mengambilnya dari tangan-tangan mereka yang mempersembahkannya dan lalu menghantarnya ke surga. 

sumber : "The Lowly Life And Bitter Passion Of Our Lord Jesus Christ And His Blessed Mother Together With The Mysteries Of The Old Testament: from the visions of Blessed Anne Catherine Emmerich"; 
www.jesus-passion.com 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: "diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Spiritual Direction." 

Kamis, 12 Juli 2012

06. NILAI SEBUAH MISA HARIAN

Hari ini saya membuka APIK, dan mendapatkan ini, yang saya ingin bagikan bagi pencinta setia , Misa Harian

Berat dari satu Misa Kudus

Kisah nyata berikut ini berhubungan dengan Sr.M.Veronica Murphy, seorang biarawati tua yang mendengar langsung dari mulut mendiang yang terhormat Fr.Stanislaus SS.CC.

Suatu hari beberapa tahun yang lalu,disebuah kota kecil di Luxemburg, Seorang Kapten Penjaga Hutan sedang berbincang serius dengan seorang tukang daging saat seorang wanita tua masuk kedalam toko. Si tukang daging menghentikan pembicaraan dan bertanya ke wanita tua apa yang diinginkannya. Wanita itu memohon untuk sedikit daging tapi ia tidak punya uang. 

Kapten itu merasa geli pada percakapan yang terjadi antara wanita miskin dan tukang daging itu, "Hanya sedikit daging, tapi berapa yang akan anda bayar?" ia bertanya.

"Maaf saya tidak punya uang tapi saya akan menghadiri Misa kudus bagi anda". kata wanita itu kepada tukang daging. Baik tukang daging dan Kapten adalah laki-laki yang baik tetapi sangat acuh terhadap agama, sehingga mereka seketika mulai mengejek jawaban wanita tua itu. 

"Baiklah ," kata tukang daging, "Anda pergi dan mendengar Misa bagi saya dan ketika anda kembali saya akan memberikan daging sebanyak nilai Misa itu." Wanita itu meninggalkan toko dan kembali beberapa saat kemudian. Tukang daging melihat dia mendekati meja lalu berkata, "Baiklah kita akan lihat." 

Dia mengambil secarik kertas dan menulis di atasnya "aku mendengar Misa untukmu." Dia kemudian meletakkan kertas pada satu sisi timbangan dan sebuah tulang kecil di sisi lain tapi tidak ada yang terjadi. Selanjutnya ia menempatkan sepotong daging bukan tulang, tapi kertas masih terbukti lebih berat. 

Kedua pria ini mulai merasa malu akan ejekan mereka tapi meneruskan permainan mereka. Sepotong daging besar ditempatkan supaya seimbang, tetapi kertas itu tetap bertahan. Tukang daging menjadi putus asa dan memeriksa timbangan, tetapi mendapatkan semuanya baik2 saja 

"Apa yang kau inginkan wanita yang baik? Apakah saya harus memberikan seluruh kaki daging domba ini ?". Iapun meletakkan kaki domba itu ke timbangan, tetapi kertas itu melebihi berat daging. Kemudian sepotong daging yang lebih besar diletakkan,tapi berat tetap ada disisi kertas.
Ini sangat mengesankan si tukang daging dan membuat ia bertobat, dan berjanji untuk memberikan wanita itu jatah daging harian. 

Adapun Kapten itu, dia meninggalkan toko menjadi orang yang telah diubah dan menjadi seorang pencinta Misa harian yang setia. Dua dari putranya menjadi imam, seorang menjadi imam Jesuit dan seorang lainnya adalah imam dari Hati Kudus Yesus. 

Pater Stanislaus menutup kisahnya dengan berkata "Sayalah imam dari Hati Kudus Yesus itu dan Kapten itu adalah ayah saya." 

Sejak kejadian itu Kapten tsb. menjadi petugas misa harian dan anak-anaknya dilatih untuk mengikuti teladannya. Kemudian, ketika anak-anaknya menjadi imam, ia menasehati mereka untuk berkata baik mengenai Misa setiap hari dan jangan pernah karena kelalaian mereka, mereka melewati Kurban Misa Kudus.

Ingatlah bahwa "Satu Misa Kudus satu hari menjauhkan Iblis pergi"

THE WEIGHT OF THE HOLY MASS
(From the Catholic Society of Evangelists Newsletter, August, 1999) 

The following TRUE STORY was related to Sr. M.  Veronica Murphy by an elderly nun who heard it from the lips of the late Reverend Father Stanislaus SS.CC 

One day many years ago, in a little town in  Luxembourg , a Captain of the Forest Guards was in deep conversation with the butcher when an elderly woman entered the shop. The butcher  broke off the conversation to ask the old  woman what she wanted. She had come to beg for a little meat but had no money.

The Captain was amused at the woman and the butcher. 'Only a little meat, but how much are you going to give her?', he wondered. 

'I am sorry I have no money but I'll hear Mass for you, ' the woman told the butcher.  Both the butcher and the Captain were indifferent about religion, so they at once began to scoff at the old woman's idea. 

'All right then,' said the butcher. 'You go and hear Mass for me and when you come back I'll give you as much as the Mass is worth'.
The woman left the shop and returned later. She approached the counter and the butcher said. 'All right then we'll see.' 

He took a slip of paper and wrote on it 'I heard a Mass for you.'
He placed the paper on the scales and a tiny bone on the other side, but nothing happened.
Next he placed a piece of meat instead of the bone, but still the paper proved heavier. 

Both men were beginning to feel ashamed of their mockery but continued their game.  A large piece of meat was placed on the balance, but still the paper held its own.  The butcher, exasperated, examined the scales but found they were alright.

'What do you want my good woman? Must I give you a whole leg of mutton?' At this he placed the leg of mutton on the balance, but the paper outweighed the meat. A larger piece of meat was put on, but again the weight remained on the side of the paper. This so impressed the butcher that he was converted and promised to give the woman her daily ration of meat. 

As for the Captain, he left the shop a changed man and became an ardent lover of daily Mass. Two of his sons became priests, one a Jesuit & the other a Father of the Sacred Heart.

Father Stanislaus finished the story by saying, 'I am from the Religious of the Sacred Heart & the Captain was my father.

'From this incident the Captain became a daily Mass attendant & his children were trained to follow his example. 

Later, when his sons became priests, he advised them to say Mass well every day and never miss the Sacrifice of the Mass through any fault of their own. 

If you like the story, share it with someone.  
Remember too that 'a Holy Mass a day keeps the Devil away'.